BELAJAR DARI APA YANG SUDAH DILAKUKAN MAKA KITA AKAN SEMAKIN BERPENGALAMAN

BERAWAL DARI MIMPI BUKAN DARI ILUSI

tidak akan ada keberhasilan tanpa bekerja dan bekerja tanpa ilmu juga akan sia sia maka teruslah kejar mimpi agar hidup lebih bermakna tapi jangan berlari tak menentu agar tidak ada yang perlu di ulang lagi.

TERSENYUM UNTUK MENUTUPI KESEDIHAN

kuat itu bukan hanya masalah tenaga, kuat itu bukan hanya masalah siapa yang kita lawan, kuat itu adalah masalah selama apa kita mampu bertahan

PAHLAWAN AKAN TETAP ADA MESKI KITA TAK MENGHIRAUKAN MEREKA

kepedulian bukan masalah apa yang sudah kita berikan, kepedulian itu masalah hati yang terus terikat dan tak akan mampu manusia melepasnya

BERKARYA DAN BERGERAK IBARAT KAKI DENGAN TANGAN

apa yang dia tahu tentang bergerak jika dia tidak pernah berjalan dan berkeliling melihat rakyatnya yang sedang kelaparan

SAYA ADALAH SAYA

bukan dia bukan mereka juga bukan anda karena saya adalah saya

Saturday, 4 July 2015

HP Stream 11.6 Inch Laptop (Intel Celeron, 2GB, 32GB SSD, Horizon Blue) Includes Office 365 Personal for One Year

Special Offers and Product Promotions

Color: Horizon Blue | Capacity: 11.6-inch
  • Save 10% on Select Bose Computer Speakers when you purchase 1 or more Select Laptops and Desktops offered by Amazon.com. Here's how (restrictions apply)
  • Save Big On Open-Box & Used Products: Buy "HP Stream 11.6 Inch Laptop (Intel Celeron, 2GB, 32...” from Amazon Open-Box & Used and save 15% off the $199.99 list price. Product is eligible for Amazon's 30-day returns policy and Prime or FREE Shipping. See all offers from Amazon Open-Box & Used.
  • Unlimited Cloud Storage: Never run out of space for all your photos, videos, and files with unlimited storage plans from Amazon Cloud Drive. Learn more


Technical Details
Screen Size11.6 inches
Max Screen Resolution1366x768 pixels
Processor2.16 GHz Intel Celeron
RAM2 GB DDR3L SDRAM
Hard Drive32 GB
Graphics CoprocessorIntel HD Graphics
Wireless Type802.11bgn
Number of USB 2.0 Ports1
Number of USB 3.0 Ports1
Average Battery Life (in hours)8.25 hours
Brand NameHP
SeriesStream
Item model numberK2L95UA#ABA
Hardware PlatformPC
Operating SystemWindows 8.1
Item Weight2.8 pounds
Item Dimensions L x W x H8.10 x 11.81 x 0.78 inches
ColorHorizon Blue
Processor BrandIntel
Processor Count1
Flash Memory Size32.0
Hard Drive InterfaceUltra320 SCSI
Optical Drive TypeNo optical drive
Audio-out Ports (#)1
Batteries:1 Lithium ion batteries required. (included)
 
 KLIK INI KALAU MAU BELI


Monday, 29 June 2015

KATA TAK BERGAMBAR

hari ini aku menulis tentang rasa dan keinginan
teringat tentang kampung halaman yang sudah mulai memudar dalam ingatan ku
saat wajah wajah lama datang
saat kenangan merenggut kesadaran ku
ku coba hilangkan dan bersikap acuh pada rasa ingin pulang
ibu jika mungkin ada yang hilang pada rasa apa anakmu harus benar benar mengiklaskan dan tetap diam seperti ini
seakan rasa nyaman hidup ini
membuat aku terbuai dan hilang kesadaran
yang tak sepantasnya aku buang
ini adalah kata tak bergambar
kata yang hanya menggambarkan keangkuhan
keangkuhan diri manusia yang berdiri tegak di kampung orang lain
jauh disana
harimau loreng tiga berdiri angkuh dengan pengetahuan adatnya
sedangkan aku disini melihat dari kejauhan
rasa yang mulai pudar
nilai nilai yang terkikis habis oleh jaman dan tak dijaga
ini kata tak bergambar
tentang rasa dan keinginan
ini kata tak bergambar
tentang gambar kampung yang mulai memudar
haruskah aku kembali
atau tetap tinggal dan melihat dari jauh
harimau loreng tiga berdiri angkuh dengan pengetahuan adat yang mulai terkikis jaman dan tak terjaga
ini benar benar kata tanpa gambar
tak ada rasa yang perlu kalian tahu
tak ada yang perlu dirasakan
karena kampung ku sudah mulai hilang dari ingatan
biar lah
biar lah aku lupakan
agar tak ada lagi ingatan
dan hanya berjalan lurus kedepan

Tuesday, 28 April 2015

Biografi Sastrawan Ayu Utami

https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-sastrawan-ayu-utami

Biografi Sastrawan Ayu Utami

Biografi Ayu Utami
Ayu Utami
Ayu Utami yang  nama lengkapnya Justina Ayu Utami dikenal sebagai novelis pendobrak kemapanan, khususnya masalah seks dan agama. Ia dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968. Ayahnya bernama Johanes Hadi Sutaryo dan ibunya bernama Bernadeta Suhartina. Ia berasal dari keluarga Katolik.
Pendidikan terakhirnya adalah S-1 Sastra Rusia dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1994). Ia juga pernah sekolah Advanced Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, UK (1995)  dan Asian Leadership Fellow Program, Tokyo, Japan (1999).  Ayu menggemari cerita petualangan,  seperti Lima Sekawan, Karl May, dan Tin Tin.  Selain itu,  ia  menyukai  musik tradisional dan musik klasik. Sewaktu mahasiswa, ia terpilih sebagai finalis gadis sampul majalah Femina, urutan kesepuluh. Namun, ia tidak menekuni dunia model.
Ayu pernah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan yang memasok senjata dan bekerja di Hotel Arya Duta sebagai guest public relation. Akhirnya, ia masuk dalam dunia jurnalistik dan  bekerja sebagai wartawan Matra, Forum Keadilan, dan D & R.  Ketika menjadi wartawan, ia banyak mendapat kesempatan menulis. Selama 1991, ia aktif  menulis kolom mingguan “Sketsa” di harian Berita Buana. Ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan ikut membangun Komunitas Utan Kayu, sebuah pusat kegiatan seni, pemikiran, dan kebebasan informasi, sebagai kurator.  Ia anggota redaktur Jurnal Kalam dan peneliti di Institut Studi Arus Informasi.
Setelah tidak beraktivitas sebagai jurnalis, Ayu kemudian menulis novel. Novel pertama yang ditulisnya adalah  Saman (1998). Dari karyanya itu, Ayu menjadi perhatian banyak pembaca dan kritikus sastra karena novelnya dianggap sebagai novel pembaru dalam dunia sastra Indonesia. Melalui novel itu pula, ia memenangi Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Novel tersebut mengalami cetak ulang lima kali dalam setahun. Para kritikus menyambutnya dengan baik karena novel Saman memberikan warna baru dalam sastra Indonesia. Karyanya yang berupa esai kerap dipublikasikan di Jurnal Kalam. Karyanya yang lain, Larung, yang merupakan dwilogi novelnya, Saman dan Larung, juga mendapat banyak perhatian dari pembaca.
KARYA-KARYA Ayu Utami:
a. Novel Ayu Utami
    1. Saman  (1998)
    2.  Larung (2001)
    3. Bilangan Fu (2008)
    4. Manjali dan Cakrabirawa (2010)
b. Kumpulan Esai
   Si Parasit Lajang (2003)
c. Biografi
    1. Cerita Cinta Enrico (2012)
    2. Soegija: 100% Indonesia (2012)
Penghargaan
1. Pemenang  Sayembara Penulisan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta tahun
    1998 untuk novelnya Saman
2. Prince Claus Award dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di
    Den Haag, tahun 2000
3. Penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 untuk novelnya Bilangan Fuhttps://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-sastrawan-ayu-utami

Biografi Djenar Maesa Ayu

https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-djenar-maesa-ayu

Biografi Djenar Maesa Ayu

Djenar  Maesa Ayu

Biografi Djenar Maesa Ayu
Djenar Maesa Ayu atau yang akrab disapa Nai adalah penulis yang berbakat. Nai yang lahir di Jakarta tanggal 14 Januari 1973 berasal dari keluarga seniman. Ayahnya, Syuman Djaya, adalah sutradara film dan ibunya, Tuti Kirana, adalah aktris terkenal  tahun 1970-an. Djenar memiliki dua orang anak, yaitu Banyu Bening dan Btari Maharani.
Nai memulai menggeluti menulis dengan menemui sejumlah sastrawan yang dijadikannya sebagai guru. Mereka itu adalah Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan Sutardji Calzoum Bachri.  Karya Nai banyak mendapat kritik dan pujian karena kontroversi. Namun, baginya, hal itu tidak memengaruhi kreativitasnya. Ia tetap menulis apa yang ingin diekspresikannya. Salah satu ciri karyanya adalah temanya dunia perempuan dan seksualitas. Karya pertamanya adalah cerpen “Lintah” (2002) yang bertema feminisme dan dimuat di Kompas.

Cerpen Djenar Maesa Ayu
Karyanya, terutama cerpen, tersebar di berbagai media massa Indonesia, seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan  Lampung Post. Buku pertama Nai berupa kumpulan cerpen yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! (2004). Buku itu telah dicetak ulang delapan kali dan masuk dalam sepuluh buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003. Buku itu diterbitkan dalam bahasa Inggris.  Kumpulan cerpen  Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) juga mendapat penghargaan lima besar Khatulistiwa Literary Award 2004. Cerpennya “Waktu Nayla” mendapat predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen “Asmoro” dalam antologi cerpen pilihan Kompas.

Cerpen “Menyusu Ayah” menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh. ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Suckling Father” untuk dimuat dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris khusus edisi karya terbaik.
Selain menulis, Djenar juga menggeluti bidang perfilman, yaitu sebagai pemain dan sutradara. Ia membintangi film Boneka dari Indiana (1990), Koper (2006), Anak-Anak Borobudur (2007), Cinta Setaman (2008), Dikejar Setan (2009), Melodi (2010), dan Purple Love (2011) dan  menjadi sutradara film Mereka Bilang, Saya Monyet,  SAIA (2009) serta sutradara TV  dalam acara “Fenomena” (TransTV, 2006) dan “Silat Lidah” (AnTV, 2007). Ia mendapat Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!
KARYA Djenar Maesa Ayu:
a. Novel Djenar Maesa Ayu
 Nayla (2005)
b. Kumpulan Cerita Pendek Djenar Maesa Ayu
1. Mereka Bilang, Saya Monyet! (2002)
2. Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004)
3. Cerota Pendek tentang Cerita Pendek (2006)
4. 1 Perempuan dan 14 Laki-Laki (2011)
c. Sutradara/Penulis/Skenario
1. “Fenomena” (TransTV, 2006)
2. “Silat Lidah” (AnTV, 2007)
3. SAIA (2009)
4. Mereka Bilang, Saya Monyet
d. Film yang Dibintangi
1. Boneka dari Indiana (1990)
2. Koper (2006)
3. Anak-Anak Borobudur (2007)
4.  Cinta Setaman (2008)
5.  Dikejar Setan (2009)
6., Melodi (2010)
7.  Purple Love (2011)
Penghargaan
1.    Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!
2.    Sepuluh besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003  untuk bukunya Mereka Bilang, Saya Monyet!
3.    Cerpen Tetrbaik Kompas 2003 untuk cerpennya “ Waktu Nayla”
4.     Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan untuk cerpennya “Menyusu Ayah”
5.    Lima besar buku terbaik  Khatulistiwa Literary Award 2004  untuk  kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)

Biografi Djenar Maesa Ayu

biografi Bre Redana

https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-bre-redana

biografi Bre Redana

Bre Redana
Siapa yang tak kenal Bre, anak ketiga dari empat bersaudara, berikut ini biografi bre redana termasuk orang yang enggan menyebutkan tanggal kelahirannya. Pernah secara terbuka, ia menuturkan latar belakang kehidupan keluarganya. “Ayah saya kader PKI di Salatiga” demikian pengakuannya. Ayahnya, Gondo Waluyo, seorang yang terpelajar, dijemput dan ditahan di tempat yang tidak diketahui ketika Bre berusia delapan tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak penjemputan paksa itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya. Keluarganya kemudian menjadi bulan-bulanan teror masyarakat sekelilingnya. Bre pun tumbuh menjadi laki-laki pemalu dan cenderung minder.
Selanjutnya, kehidupan keluarganya sepenuhnya ditopang oleh ibunya, Yutinem. Berkat upaya ibunyalah, Bre dapat berkenalan dengan majalah Horison, Prisma, MIDI, dan sebagainya. Kegemarannya membaca mengantarkannya pada minat yang kuat untuk menulis, sebuah dunia karang-mengarang.
Pendidikan sekolah dasarnya di SD Kanisius (1970) dan SMP Negeri 2 (1973) diselesaikan di kota kelahirannya, Salatiga, Jawa Tengah. Kemudian, ia melanjutkan ke STM Kristen Klaten. Setelah tamat STM, Bre, berkuliah di jurusan Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Waktu kuliah ia berkenalan dengan dunia jurnalistik dan ia aktif di pers mahasiswa Gita Mahasiswa. Ketika duduk di bangku kelas 2 STM, Bre Redana mulai mengirim tulisannya ke media massa cetak. Saat itu, medio 1975, ia mengirim karangan fiksi tentang cinta pertama ke majalah Detektif & Romantika. Sewaktu menjadi mahasiswa, ia rajin menulis untuk pers di kampusnya. Karangannya juga dikirim ke harian Kompas, tetapi tidak ada satu pun yang diterima. Namun, di Sinar Harapan dan Merdeka tulisannya banyak dimuat.
Namun, baru saja lulus sarjana muda dari Satya Wacana, tahun 1981, Bre Redana diterima sebagai wartawan di harian Kompas yang sebelumnya tidak pernah menerima satu pun tulisannya. Sebagai jurnalis pemula, Bre Redana ditempatkan di bagian yang menangani ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Selanjutnya ia pindah ke bagian kota, olahraga, dan luar negeri, sampai akhirnya bertugas di bagian yang mengelola kolom budaya.
Baginya, sangat menyenangkan menangani kolom budaya yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Sejak anak-anak Bre Redana memang sangat dekat dengan kesenian tradisi, seperti kethoprak, tarling, dan tayub. Ia pernah mengatakan, “Kalau saya menonton atau menulis hal itu lagi, saya seperti merasa kembali ke mata air saya lagi.”
Tahun 1990-1991 Bre Redana mengikuti kuliah kajian media di Darlington College of Tehnology, Inggris. Fokus tulisan Bre beralih ke masalah sosial di seputar kehidupan masyarakat Jakarta, seperti gosip artis, tren body shop, sampai toko mewah Mark and Spencer.
Tulisannya dikemas dalam laporan kerja jurnalistik yang dapat dibaca oleh berbagai kalangan. Bre Redana melihat pekerjaan jurnalistiknya bukan sekadar sumber pendapatan, melainan juga merupakan panggilan. “Saya menghayati pekerjaan jurnalistik. Saya merasa ada dimensi yang sakral dari pekerjaan menulis ini.”
Ketika pada 1980-an rezim Suharto mengangkat isu ‘bersih lingkungan’, ia dinyatakan termasuk sebagai orang yang ‘tidak bersih’. Bre Redana pun terpukul.
Akan tetapi, ia tidak menjadi patah arang. Ia terus mencari strategi lain untuk tetap dapat menulis. Sebagai jurnalis, ia sangat menghayatinya. Di mana pun berada, ia berusaha masuk sedalam-dalamnya, tetapi tetap ada jarak. “Karena dengan berjarak, kita bisa tetap kritis,” ujarnya.
Ia menggemari pencak silat. Ia telah mendalaminya selama lebih dari lima belas tahun.
Membaca, termasuk membaca novel, sudah menjadi rutinitas harian. Setiap pagi ia jarang membaca koran. Biasanya Bre membaca buku yang agak serius. Ia sangat mengagumi Umber Echo, esais kelas dunia. Mungkin tulisan Bre terpengaruh oleh ide esais itu. “Echo sebagai seorang pemikir bisa menghasilkan esai yang mampu menjelaskan problem yang ada di masyarakat dengan sangat bagus dan disampaikan dengan sangat ringan,” tuturnya.
Cita-citanya yang masih belum tercapai adalah menghasilkan sebuah karangan dari genre yang lain. “Saya ingin menulis novel,” katanya tentang keinginan yang hendak ia capai.
Ia merindukan mempunyai waktu khusus. Pekerjaan jurnalistik sangat sibuk. Sehingga, menurut Bre, membuat kreativitasnya mandek. Kompas akan menjadi tempat perhentian akhir karier Bre Redana. Ia tidak mempunyai keinginan untuk bertualang kerja di tempat lain. “Setelah di Kompas saya nggak mau kerja di mana-mana lagi. Saya ingin pensiun, lalu menulis,” menurutnya.
Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa (2002)

Biografi Agus R. Sarjono

https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-agus-r-sarjono

Biografi Agus R. Sarjono

Agus R. Sarjono

Biografi Agus R. Sarjono.

 Agus R. Sarjono dikenal sebagai penyair, cerpenis, dan esais. Ia lahir di Bandung, 27 Juli 1962. Agus R. Sarjono bersama istri dan dua anaknya kini tinggal di kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat.
Pendidikan formalnya diselesaikan di IKIP Bandung (S1) pada studi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia; dan Kajian Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, UI untuk S-2-nya.Semasa mahasiswa ia aktif di Unit Pers Mahasiswa IKIP Bandung sebagai ketua (1987-1989).
Agus adalah salah seorang Ketua DPH Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2003-2006. Sebelumnya ia adalah Ketua Komite Sastra DKJ periode 1998-2001. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pengajar di Jurusan Teater Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung serta menjadi redaktur majalah Sastra Horison.
Selain menjadi editor sejumlah buku antara lain: Saini KM: Puisi dan Beberapa Masalahnya (1993);Catatan Seni (1996); Kapita Selekta Teater (1996); Pembebasan Budaya-Budaya Kita (1999); Dari Fansuri ke Handayani (2001); Horison Sastra Indonesia (2002); Horison Esai (2003); Malam Sutera: Sitor Situmorang (2004); Teater Tanpa Masa Silam: Arifin C. Noer (2005); Poetry and Sincerity(2006), Agus R. Sarjono juga menulis beberapa cerita pendek.
Agus R. Sarjono kerap menulis puisi, cerpen, dan esai. Karyanya dimuat berbagai koran, majalah, dan jurnal terkemuka di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Puisinya telah banyak dikaji oleh peneliti dalam dan luar negeri. Dr. Heike Gäßler, teaterawan dan sinolog di Berlin adalah salah satu pengkaji puisi Agus R. Sarjono. Ia berpendapat tentang kumpulan puisi Tulang Segar dari Banyuwangi (Frische Knochen aus Banyuwangi). “Agus R. Sarjono tidak saja menciptakan gambar/imaji, tetapi juga membangunkan elemen dan figur dalam puisinya agar hidup. Ia membuatnya berkomunikasi seperti dalam suatu drama. Hal tersebut mengingatkan saya akan kebiasaan animistis. Selain mengikuti bengkel kerja puisi, seperti Asean Writers Conference/Workshop (Poetry) di Manila (1994); Agus juga pernah menjadi tutor/pendamping penyair Indonesia dalam Bengkel Puisi Majelis Sastera Asia Tenggara di Jakarta (1997).
Agus pernah diundang membacakan sajaknya di beberapa festival internasional, seperti Istiqlal International Poetry Reading di Jakarta (1995), Festival Seni Ipoh III di negeri Perak, Malaysia (1998); Malam Puisi Indonesia-Belanda di Erasmus Huis (1998); Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda (1999; 2003), Malam Indonesia, Paris (1999); Festival Internasional Poetry on the Road, Bremen (2001), Internasionales Literaturfestival, Berlin (2001), dan Puisi Internasional Indonesia di Makassar dan Bandung (2002).
Ia kerap diundang pula menjadi pemakalah di berbagai kegiatan sastra, antara lain “Mimbar Penyair Abad 21" di TIM (1996); “Pertemuan Sastrawan Nusantara IX/Pertemuan Sastrawan Indonesia 1997" di Sumatera Barat; “Pertemuan Sastrawan Nusantara X/Pertemuan Sastrawan Malaysia I” di Johor Bahru
Sejak Februari hingga Oktober 2001, Agus tinggal di Leiden, Belanda sebagai writer in residence atas undangan Poets of All Nations serta peneliti tamu pada International Institute for Asian Studies (IIAS), Universitas Leiden.
Ia juga pernah diundang sebagai penyair tamu di Heinrich Böll Haus, Langenbroich, Jerman, sejak Desember 2002 hingga Maret 2003. Dalam masa itu ia diundang berdiskusi dan membacakan puisinya di berbagai universitas terkemuka dan pusat kesenian di Jerman. Sejak enam tahun yang lalu, ia merupakan salah seorang instruktur sastra bagi para guru se-Indonesia. Kesibukannya yang lain adalah sebagai anggota Majelis Sastra Asia Tenggara yang disponsori oleh Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.
Salah satu karyanya pernah dimuat dalam cerpen pilihan Kompas 2003. Karya esainya diterbitkan dalam buku, antara lain Bahasa dan Bonafiditas Hatu (2001) dan Sastra dalam Empat Orba (2001). Karya dramanya, terbit dalam buku Atas Nama Cinta (2004). Puisinya terbit dalam berbagai antologi di Indonesia, bahkan di Manila (Filipina), Seoul (Korea Selatan), serta Bremen dan Berlin (Jerman). Selain itu, karyanya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Serbia, Arab, Korea, dan China.
Bersama Berthold Damshauser, ia menjadi editor seri puisi Jerman dan menerjemahkan beberapa puisi, antara lain, Zaman Buruk bagi Puisi, Berthold Brecht (2004); Candu dan Ingatan, Paul Celan (2005); Satu dan Segalanya, Johann Wolfgang von Goethe (2007).


KARYA:
 Puisi
1. Kenduri Air Mata (1994; 1996)
2. A Story from the Land of the Wind (1999, 2001)
3. Suatu Cerita dari Negeri Angin (2001; 2003)
4. Frische Knöckhen aus Banyuwangi (dalam bahasa Jerman, 2002)
5. Diterbangkan Kata-Kata (antologi puisi, 2006)
6. Kepada Urania (terjemahan karya Joseph Brodsky, 1998)
7. Impian Kecemburuan (terjemahan karya Seamus Heaney, 1998)

Biografi Achdiat Karta Miharja

https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-achdiat-karta-miharja

Biografi Achdiat Karta Miharja

Achdiat Karta Miharja
Biografi Achdiat Karta Miharja
Achdiat Karta Miharja lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, tanggal 6 Maret 1911. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga menak yang feodal. Ayahnya bernama Kosasih Kartamiharja, seorang pejabat pangreh praja di Jawa Barat. Achdiat rnenikah dengan Suprapti pada bulan Juli 1938. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai lima orang anak.
Ia memulai sekolah dasarnya di HIS (sekolah Belanda) Bandung dan tamat tahun 1925. Ia masuk ke AMS (sekolah Belanda setara SMA), Bagian Sastra dan Kebudayaan Timur, di Solo tahun 1932. Lalu, ia melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia, Jakarta. Ketika kuliah, ia pernah diajar oleh Prof. Beerling dan Pastur Dr. Jacobs S.J., dosen filsafat, tahun 1956 dalam rangka Colombo Plan. Achdiat mendapat kesempatan belajar bahasa dan sastra Inggris serta karang-mengarang di Australia.

Pendidikan Achdiat Karta Miharja
Setelah tamat dari AMS, Achdiat sempat mengajar di Perguruan Nasional, Taman Siswa, tetapi tidak lama. Tahun 1934 Ia bekerja menjadi anggota redaksi Bintang Timur dan redaktur mingguanPaninjauan. Tahun 1941 Ia menjadi redaktur Balai Pustaka. Pada zaman pendudukan Jepang, Achdiat menjadi penerjemah di bagian siaran, radio Jakarta. Tahun 1946 ia memimpin mingguan Gelombang Zaman dan Kemajuan Rakyat yang terbit di Garut sekaligus menjadi anggota bagian penerangan penyelidik Divisi Siliwangi. Tahun 1948 Ia kembali bekerja sebagai redaktur Balai Pustaka. Tahun 1949 Ia menjadi redaktur kebudayaan di berbagai majalah, seperti Spektra dan Pujangga Baru di samping sebagai pembantu kebudayaan harian Indonesia Raya dan Konfrontasi. Pada tahun 1951--1961, Ia dipercayai memegang jabatan Kepala Bagian Naskah dan majalah Jawatan Pendidikan Masyarakat Kementerian PPK.

Karir Achdiat Karta Miharja
Pada tahun 1951 Achdiat juga menjadi Wakil Ketua Organisasi Pengarang Indonesia (OPI) dan anggota pengurus Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Pada tahun itu juga, ia bertugas menjadi Ketua Seksi Kesusastraan Badan Penasihat Siaran Radio Republik Indonesia (BPSR) dan menjadi Ketua Pen-Club Internasional Sentrum Indonesia. Tahun 1954 Achdiat menjabat ketua bagian naskah/majalah baru. Tahun 1959 ia menjadi anggota juri Hadiah Berkala BMKN untuk kesusastraan. Tahun 1959--1961 Achdiat menjadi dosen Sastra Indonesia Modern di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, Jakarta. Pada tahun 1961—1969 ia mendapat kesempatan untuk menjadi Lektor Kepala (senior lecturer) di Australian National University (ANU), Canberra.
Achdiat tertarik pada sastra berawal dari rumahnya sendiri ketika ia masih kecil, masih di SD. Ayahnya adalah seorang penggemar sastra, terutama sastra dunia. Ayahnya sering menceritakan kembali karya yang telah dibacanya kepada Achdiat. Lama-kelamaan, Achdiat kecil pun menjadi gemar juga membaca buku koleksi ayahnya itu. Ia pun ikut membaca semua buku sastra milik ayahnya.  Dari koleksi ayahnya, ia telah membaca, antara lain, buku karangan Dostojweski, Dumas, dan Multatuli. Buku Quo Vadis karya H. Sinckiwicq, Alleen op de Wereld karya Hector Malot danGenoveva karya C. von Schimdt, bahkan telah dibacanya ketika ia kelas VI SD.
Hasilnya adalah tulisan Achdiat, baik  yang berupa karya sastra maupun esai tentang sastra atau kebudayaan. Novelnya yang berjudul Atheis adalah novel yang membawa namanya di deretan pengarang novel terkemuka di Indonesia. Banyak pakar sastra yang membicarakan novelnya itu, antara lain, Ajip Rosidi, Boen S. Oemarjati, A. Teeuw, dan Jakob Sumardjo.
KARYA Achdiat Karta Miharja:
a. Cerita Pendek Achdiat Karta Miharja
1. Kesan dan Kenangan (kump. cerpen) (Jakarta: Balai Pustaka, 1960)
2.. Keretakan dan Ketegangan (kump. cerpen) (Jakarta: Balai Pustaka, 1956)
3. Belitan Nasib (kump. cerpen) ( Singapura: Pustaka Nasional. 1975)
4. Pembunuh dan Anjing Hitam (kump. cerpen) (Jakarta: Balai Pustaka)
5.  “Pak Sarkam” ( Poedjangga Baroe, No.5, Th. 13, 1951)
6.  “Buku Tuan X” (Poedjangga Baroe. No.7,8, Th. 4, 1953)
7.  “Salim, Norma, Sophie” (Prosa, No,2, Th. 1, 1953)
8.  “Sutedjo dan Rukmini” (Indonesia, No. 8,9, Th. 4, 1953)
9.  “Bekas Wartawan Sudirun” (Indonesia, Th. 4, 1953)
10.  “Si Ayah Menyusul” (Konfrontasi, No. 18, 1957)
11. “Si Pemabok” (Varia, No. 104, Th. 3. 1960)
12. “Latihan Melukis” (Budaya Jaya, No. 47, Th. 5. 1972)
b. Puisi Achdiat Karta Miharja
1.  “Pemuda Indonesia” (Gelombang Zaman, 2.1, 45).
2.  “Bagai Melati” (Gelombang Zaman, 7.1, 46)
3.  “Bunga Bangsa” (Gelombang Zaman, 13.1 46)
4.  “O, Pudjangga”   (Gelombang Zaman, 35.1, 46)
c. Novel Achdiat Karta Miharja
1.  Atheis (Jakarta: Balai Pustaka, 1949)
2.  Debu Cinta Bertebaran (Malaysia: Pena Mas, 1973)
d. Drama
1.  "Bentrokan dalam Asmara" (Jakarta: Balai Pustaka, 1952)
2. " Pak Dulah in Extremis” (Indonesia. No. 5, Th. 10. 1959)
3.  “Keluarga R. Sastro” (drama satu babak) (Indonesia. No. 8. Th.5. 1959)
e. Esai
1. Polemik Kebudayaan (Jakarta: Balai Pustaka, 1948)
2. “Ada Sifat Tuhan dalam Diri Kita" (Pikiran Rakyat, 28 Juni 1991)
3. “Pengaruh Kebudayaan Feodal” (Sikap, Th. Ke-1, 13/X, 1948)
4. “Bercakap-cakap dengan Jef Last” (Kebudayaan, 10 Agustus 1950)
Biografi Achdiat Karta Miharja