BELAJAR DARI APA YANG SUDAH DILAKUKAN MAKA KITA AKAN SEMAKIN BERPENGALAMAN

BERAWAL DARI MIMPI BUKAN DARI ILUSI

tidak akan ada keberhasilan tanpa bekerja dan bekerja tanpa ilmu juga akan sia sia maka teruslah kejar mimpi agar hidup lebih bermakna tapi jangan berlari tak menentu agar tidak ada yang perlu di ulang lagi.

TERSENYUM UNTUK MENUTUPI KESEDIHAN

kuat itu bukan hanya masalah tenaga, kuat itu bukan hanya masalah siapa yang kita lawan, kuat itu adalah masalah selama apa kita mampu bertahan

PAHLAWAN AKAN TETAP ADA MESKI KITA TAK MENGHIRAUKAN MEREKA

kepedulian bukan masalah apa yang sudah kita berikan, kepedulian itu masalah hati yang terus terikat dan tak akan mampu manusia melepasnya

BERKARYA DAN BERGERAK IBARAT KAKI DENGAN TANGAN

apa yang dia tahu tentang bergerak jika dia tidak pernah berjalan dan berkeliling melihat rakyatnya yang sedang kelaparan

SAYA ADALAH SAYA

bukan dia bukan mereka juga bukan anda karena saya adalah saya

Sunday, 22 May 2016

ISLAM ATAU PKI

dah malam lagi mari kita bicara tentang pergantian siang dan malam kenapa harus ada gelap dan terang dalam hidup ini bukannya fenomena alam bahkan perjalanan hidup pun juga begitu allah berfirman kalau itu adalah salah satu tanda tanda kebesarannya bahkan kebahagian yang dipahami manusia terletak pada keberadaan dan kekayaan pun juga dibuat senjang.

ada yang kaya ada yang miskin, ada yang sehat ada pula sakit membuktikan bahwa alat ukur manusia tidak akan pernah sampai pada titik kesetaraan sedangkan allah mengatakan bahwa DIA tidak pernah melihat hambanya dari sisi dia kaya atau miskin tapi dari sisi batapa kuat dia beriman dan mempertahankan iman dalam bernegara ada pula orang yang ingin menerapkan satu terapan yang mana semua orang sama tak ada satu pun yang punya hak kepemilikian apa yang mereka punya adalah hak dan milik negara agar kesetaraan itu bisa terjamin yang kaya tidak menindas yang miskin
dan yang miskin tidak di tindas orang kaya hahahhah menghapuskan kapitalisme agar tak ada yang tertindas denga konsep mengobah birokrasi dan sistem kepemerintahan dan menyisipkan tindak ideologi agar semua satu pemikiran maka hal yang harus kita tanyakan adalah kenapa mereka ingin melakukan itu jawaban yang tepat adalah karena mereka tidak puas mereka tidak puas kalau yang miskin terus ditindas di negara ini.

saya senang dengan ini saya setuju dengan prinsip bahwa mereka tidak senang jika yang miskin terus ditindas di negeri ini tapi ide untuk menyelesaikan ini saya sangat tak suka
menjadikan apa yang dimiliki orang lain menjadi milik negara dan pada akhirnya melahirkan diktator diktator baru yang bahkan bisa menganggap dirinya nabi atau tuhan dan apa setelah itu dengan mengambil hak yang kaya apa mereka akan senang yang saya tau adalah bahkan akan mucul lebih besar perpecahan perpecahan maka dari itu waktu sidang konstituente petama hamka dan natsir sudah mengatakan untuk apa lagi kita mencari dasar negara kalau dasar negara yang di berikan allah pastilah lebih kuat maka kesimpulannya adalah pergatian siang dan malam, kaya dan semiskin, bodoh dan si pintar semua itu adalah tanda tanda kebesaran allah namun untuk bisa dekat dengan DIA bukan karena kita memliki salah satu dari itu semua tapi seberapa kuat iman kita dan seberapa cinta kita padanya
#catatankusasi

Sunday, 22 November 2015

UNTUK MU ATAS NAMA TUHAN KU

dalam gelap yang seharusnya terang ku berlari tanpa arah dan tujuan
tak tahu apa yang ku mau
yang ku tahu hanya terus lari dari kenyataan
lari dari apa yang seharusnya terjadi

aku salah
tapi tak tahu apa yang harus ku selesaikan

cinta atau apa lah namanya
tapi semua ini serasa benar benar menyakitkan
bukan soal aku di tinggal kan
tapi niat mengasihi dan menyayangi ku di tolak mentah seakan tak berharga

salahkah aku memiliki rasa
 atau aku tak pantas untuk memiliki mu

andai saja kita tak pernah kenal
atau aku tak harus mengawali
mungkin rasa ini tak harus ada
tapi kau tinggalkan aku saat semua benar benar sudah aku siapkan

cinta, sayang , bahagia
pernah kurasakan bersamamu
tapi ini hanya sebuah kenangan bukan bayangan

karena aku pernah menjalani semua itu bersama mu
tak semua tapi ada yang sudah ku renggut dari hati mu dan diri mu

itu lah rasa penyesalan ku yang paling besar
tak seharusnya ku sakiti diri mu
sebelum aku pergi dari hidup mu
yang membuat rasa bersalah ini semakin besar dan menyakitkan

tak tahu aku apa rasanya
tapi yang jelas kita lakukan aksi saling menghancurkan
kau diam dan tak bersuara
itu kehancuran untuk ku

sedangkan aku mengamuk tanpa arah
hingga menghacurkan rasamu

apa yang harus ku lakukan
apa yang perlu ku jalani
semua kabur dan tak berisi

kemana harus ku curahkan
kemana harus ku buang

semua pertanyaan itu adalah siksaan

aku punya keluarga
aku punya ayah dan ibunda
aku punya kakak dan adinda
tapi rasa ingin ku miliki itu semua bersama mu dengan keikhlasan tiada tara

minta izin aku kepada tuhan
seakan istikharah ku ingin di arahkan pada mu

doa doa malam ku hanya meminta agar kau di lindungi agar terus suci sampai kau bisa kembali
sholat sholat malam ku tujukan pada mu dan keluarga ku

ini kah namanya resah , gundah, galau
sampai aku tak bisa berfikir jernih untuk kehidupan

malam malam panjang yang ku jalani
hari hari suram yang ku lewati
tak ada sedikit pun hanya berharap ini adalah mimpi

tapi kenapa semua seakan nyata
aku tak yakin itu
bangunkan aku
karena aku tahu saat ini aku masih tertidur

sadarkan aku
sadarkan aku bahwa kamu masih disini
aku yakin kamu tak akan pergi

mana mungkin kamu pergi
terakhir aku tidur kita masih sedang bercinta dengan malam indah
sehari setelah ulang tahun mu

14 agustus aku masih ingat itu
sehari sebelum aku pergi
tapi kenapa aku merasa kepulangan ku setelah itu seakan neraka yang menyala

kata kata mu untuk pergi seakan menjadi semburan api menyala
tapi aku tahu aku masih tertidur
aku tak pernah pergi dari mu
dan aku juga tak akan pergi dari ku

maka aku mohon bangun kan aku
agar doa doa dalam mimpi ku bisa menjadi kenyataan

agar sholat sholat ku bisa jadi ibadah ku
agar nama mu bisa jadi tempat untuk ku menciptakan shorga di hadapan tuhan ku

aku ingin nama mu ku sebut atas nama tuhan ku
maka kembali lah sayang
kembali lah
agar aku tak terlalu lama tertidur
sehingga kenyataan tak semakin jauh meninggalkan ku


Saturday, 4 July 2015

HP Stream 11.6 Inch Laptop (Intel Celeron, 2GB, 32GB SSD, Horizon Blue) Includes Office 365 Personal for One Year

Special Offers and Product Promotions

Color: Horizon Blue | Capacity: 11.6-inch
  • Save 10% on Select Bose Computer Speakers when you purchase 1 or more Select Laptops and Desktops offered by Amazon.com. Here's how (restrictions apply)
  • Save Big On Open-Box & Used Products: Buy "HP Stream 11.6 Inch Laptop (Intel Celeron, 2GB, 32...” from Amazon Open-Box & Used and save 15% off the $199.99 list price. Product is eligible for Amazon's 30-day returns policy and Prime or FREE Shipping. See all offers from Amazon Open-Box & Used.
  • Unlimited Cloud Storage: Never run out of space for all your photos, videos, and files with unlimited storage plans from Amazon Cloud Drive. Learn more


Technical Details
Screen Size11.6 inches
Max Screen Resolution1366x768 pixels
Processor2.16 GHz Intel Celeron
RAM2 GB DDR3L SDRAM
Hard Drive32 GB
Graphics CoprocessorIntel HD Graphics
Wireless Type802.11bgn
Number of USB 2.0 Ports1
Number of USB 3.0 Ports1
Average Battery Life (in hours)8.25 hours
Brand NameHP
SeriesStream
Item model numberK2L95UA#ABA
Hardware PlatformPC
Operating SystemWindows 8.1
Item Weight2.8 pounds
Item Dimensions L x W x H8.10 x 11.81 x 0.78 inches
ColorHorizon Blue
Processor BrandIntel
Processor Count1
Flash Memory Size32.0
Hard Drive InterfaceUltra320 SCSI
Optical Drive TypeNo optical drive
Audio-out Ports (#)1
Batteries:1 Lithium ion batteries required. (included)
 
 KLIK INI KALAU MAU BELI


Monday, 29 June 2015

KATA TAK BERGAMBAR

hari ini aku menulis tentang rasa dan keinginan
teringat tentang kampung halaman yang sudah mulai memudar dalam ingatan ku
saat wajah wajah lama datang
saat kenangan merenggut kesadaran ku
ku coba hilangkan dan bersikap acuh pada rasa ingin pulang
ibu jika mungkin ada yang hilang pada rasa apa anakmu harus benar benar mengiklaskan dan tetap diam seperti ini
seakan rasa nyaman hidup ini
membuat aku terbuai dan hilang kesadaran
yang tak sepantasnya aku buang
ini adalah kata tak bergambar
kata yang hanya menggambarkan keangkuhan
keangkuhan diri manusia yang berdiri tegak di kampung orang lain
jauh disana
harimau loreng tiga berdiri angkuh dengan pengetahuan adatnya
sedangkan aku disini melihat dari kejauhan
rasa yang mulai pudar
nilai nilai yang terkikis habis oleh jaman dan tak dijaga
ini kata tak bergambar
tentang rasa dan keinginan
ini kata tak bergambar
tentang gambar kampung yang mulai memudar
haruskah aku kembali
atau tetap tinggal dan melihat dari jauh
harimau loreng tiga berdiri angkuh dengan pengetahuan adat yang mulai terkikis jaman dan tak terjaga
ini benar benar kata tanpa gambar
tak ada rasa yang perlu kalian tahu
tak ada yang perlu dirasakan
karena kampung ku sudah mulai hilang dari ingatan
biar lah
biar lah aku lupakan
agar tak ada lagi ingatan
dan hanya berjalan lurus kedepan

Tuesday, 28 April 2015

Biografi Sastrawan Ayu Utami

https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-sastrawan-ayu-utami

Biografi Sastrawan Ayu Utami

Biografi Ayu Utami
Ayu Utami
Ayu Utami yang  nama lengkapnya Justina Ayu Utami dikenal sebagai novelis pendobrak kemapanan, khususnya masalah seks dan agama. Ia dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968. Ayahnya bernama Johanes Hadi Sutaryo dan ibunya bernama Bernadeta Suhartina. Ia berasal dari keluarga Katolik.
Pendidikan terakhirnya adalah S-1 Sastra Rusia dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1994). Ia juga pernah sekolah Advanced Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, UK (1995)  dan Asian Leadership Fellow Program, Tokyo, Japan (1999).  Ayu menggemari cerita petualangan,  seperti Lima Sekawan, Karl May, dan Tin Tin.  Selain itu,  ia  menyukai  musik tradisional dan musik klasik. Sewaktu mahasiswa, ia terpilih sebagai finalis gadis sampul majalah Femina, urutan kesepuluh. Namun, ia tidak menekuni dunia model.
Ayu pernah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan yang memasok senjata dan bekerja di Hotel Arya Duta sebagai guest public relation. Akhirnya, ia masuk dalam dunia jurnalistik dan  bekerja sebagai wartawan Matra, Forum Keadilan, dan D & R.  Ketika menjadi wartawan, ia banyak mendapat kesempatan menulis. Selama 1991, ia aktif  menulis kolom mingguan “Sketsa” di harian Berita Buana. Ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan ikut membangun Komunitas Utan Kayu, sebuah pusat kegiatan seni, pemikiran, dan kebebasan informasi, sebagai kurator.  Ia anggota redaktur Jurnal Kalam dan peneliti di Institut Studi Arus Informasi.
Setelah tidak beraktivitas sebagai jurnalis, Ayu kemudian menulis novel. Novel pertama yang ditulisnya adalah  Saman (1998). Dari karyanya itu, Ayu menjadi perhatian banyak pembaca dan kritikus sastra karena novelnya dianggap sebagai novel pembaru dalam dunia sastra Indonesia. Melalui novel itu pula, ia memenangi Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Novel tersebut mengalami cetak ulang lima kali dalam setahun. Para kritikus menyambutnya dengan baik karena novel Saman memberikan warna baru dalam sastra Indonesia. Karyanya yang berupa esai kerap dipublikasikan di Jurnal Kalam. Karyanya yang lain, Larung, yang merupakan dwilogi novelnya, Saman dan Larung, juga mendapat banyak perhatian dari pembaca.
KARYA-KARYA Ayu Utami:
a. Novel Ayu Utami
    1. Saman  (1998)
    2.  Larung (2001)
    3. Bilangan Fu (2008)
    4. Manjali dan Cakrabirawa (2010)
b. Kumpulan Esai
   Si Parasit Lajang (2003)
c. Biografi
    1. Cerita Cinta Enrico (2012)
    2. Soegija: 100% Indonesia (2012)
Penghargaan
1. Pemenang  Sayembara Penulisan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta tahun
    1998 untuk novelnya Saman
2. Prince Claus Award dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di
    Den Haag, tahun 2000
3. Penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 untuk novelnya Bilangan Fuhttps://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-sastrawan-ayu-utami

Biografi Djenar Maesa Ayu

https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-djenar-maesa-ayu

Biografi Djenar Maesa Ayu

Djenar  Maesa Ayu

Biografi Djenar Maesa Ayu
Djenar Maesa Ayu atau yang akrab disapa Nai adalah penulis yang berbakat. Nai yang lahir di Jakarta tanggal 14 Januari 1973 berasal dari keluarga seniman. Ayahnya, Syuman Djaya, adalah sutradara film dan ibunya, Tuti Kirana, adalah aktris terkenal  tahun 1970-an. Djenar memiliki dua orang anak, yaitu Banyu Bening dan Btari Maharani.
Nai memulai menggeluti menulis dengan menemui sejumlah sastrawan yang dijadikannya sebagai guru. Mereka itu adalah Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan Sutardji Calzoum Bachri.  Karya Nai banyak mendapat kritik dan pujian karena kontroversi. Namun, baginya, hal itu tidak memengaruhi kreativitasnya. Ia tetap menulis apa yang ingin diekspresikannya. Salah satu ciri karyanya adalah temanya dunia perempuan dan seksualitas. Karya pertamanya adalah cerpen “Lintah” (2002) yang bertema feminisme dan dimuat di Kompas.

Cerpen Djenar Maesa Ayu
Karyanya, terutama cerpen, tersebar di berbagai media massa Indonesia, seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan  Lampung Post. Buku pertama Nai berupa kumpulan cerpen yang berjudul Mereka Bilang, Saya Monyet! (2004). Buku itu telah dicetak ulang delapan kali dan masuk dalam sepuluh buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003. Buku itu diterbitkan dalam bahasa Inggris.  Kumpulan cerpen  Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) juga mendapat penghargaan lima besar Khatulistiwa Literary Award 2004. Cerpennya “Waktu Nayla” mendapat predikat Cerpen Terbaik Kompas 2003, yang dibukukan bersama cerpen “Asmoro” dalam antologi cerpen pilihan Kompas.

Cerpen “Menyusu Ayah” menjadi Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan dan diterjemahkan oleh Richard Oh. ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Suckling Father” untuk dimuat dalam Jurnal Perempuan versi bahasa Inggris khusus edisi karya terbaik.
Selain menulis, Djenar juga menggeluti bidang perfilman, yaitu sebagai pemain dan sutradara. Ia membintangi film Boneka dari Indiana (1990), Koper (2006), Anak-Anak Borobudur (2007), Cinta Setaman (2008), Dikejar Setan (2009), Melodi (2010), dan Purple Love (2011) dan  menjadi sutradara film Mereka Bilang, Saya Monyet,  SAIA (2009) serta sutradara TV  dalam acara “Fenomena” (TransTV, 2006) dan “Silat Lidah” (AnTV, 2007). Ia mendapat Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!
KARYA Djenar Maesa Ayu:
a. Novel Djenar Maesa Ayu
 Nayla (2005)
b. Kumpulan Cerita Pendek Djenar Maesa Ayu
1. Mereka Bilang, Saya Monyet! (2002)
2. Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu) (2004)
3. Cerota Pendek tentang Cerita Pendek (2006)
4. 1 Perempuan dan 14 Laki-Laki (2011)
c. Sutradara/Penulis/Skenario
1. “Fenomena” (TransTV, 2006)
2. “Silat Lidah” (AnTV, 2007)
3. SAIA (2009)
4. Mereka Bilang, Saya Monyet
d. Film yang Dibintangi
1. Boneka dari Indiana (1990)
2. Koper (2006)
3. Anak-Anak Borobudur (2007)
4.  Cinta Setaman (2008)
5.  Dikejar Setan (2009)
6., Melodi (2010)
7.  Purple Love (2011)
Penghargaan
1.    Piala Citra untuk Sutradara Terbaik dalam film Mereka Bilang, Saya Monyet!
2.    Sepuluh besar buku terbaik Khatulistiwa Literary Award 2003  untuk bukunya Mereka Bilang, Saya Monyet!
3.    Cerpen Tetrbaik Kompas 2003 untuk cerpennya “ Waktu Nayla”
4.     Cerpen Terbaik 2003 versi Jurnal Perempuan untuk cerpennya “Menyusu Ayah”
5.    Lima besar buku terbaik  Khatulistiwa Literary Award 2004  untuk  kumpulan cerpen Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu)

Biografi Djenar Maesa Ayu

biografi Bre Redana

https://sites.google.com/site/sastrawanindonesia/home/biografi-bre-redana

biografi Bre Redana

Bre Redana
Siapa yang tak kenal Bre, anak ketiga dari empat bersaudara, berikut ini biografi bre redana termasuk orang yang enggan menyebutkan tanggal kelahirannya. Pernah secara terbuka, ia menuturkan latar belakang kehidupan keluarganya. “Ayah saya kader PKI di Salatiga” demikian pengakuannya. Ayahnya, Gondo Waluyo, seorang yang terpelajar, dijemput dan ditahan di tempat yang tidak diketahui ketika Bre berusia delapan tahun, masih duduk di bangku sekolah dasar. Sejak penjemputan paksa itu, ia tidak pernah lagi bertemu dengan ayahnya. Keluarganya kemudian menjadi bulan-bulanan teror masyarakat sekelilingnya. Bre pun tumbuh menjadi laki-laki pemalu dan cenderung minder.
Selanjutnya, kehidupan keluarganya sepenuhnya ditopang oleh ibunya, Yutinem. Berkat upaya ibunyalah, Bre dapat berkenalan dengan majalah Horison, Prisma, MIDI, dan sebagainya. Kegemarannya membaca mengantarkannya pada minat yang kuat untuk menulis, sebuah dunia karang-mengarang.
Pendidikan sekolah dasarnya di SD Kanisius (1970) dan SMP Negeri 2 (1973) diselesaikan di kota kelahirannya, Salatiga, Jawa Tengah. Kemudian, ia melanjutkan ke STM Kristen Klaten. Setelah tamat STM, Bre, berkuliah di jurusan Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Waktu kuliah ia berkenalan dengan dunia jurnalistik dan ia aktif di pers mahasiswa Gita Mahasiswa. Ketika duduk di bangku kelas 2 STM, Bre Redana mulai mengirim tulisannya ke media massa cetak. Saat itu, medio 1975, ia mengirim karangan fiksi tentang cinta pertama ke majalah Detektif & Romantika. Sewaktu menjadi mahasiswa, ia rajin menulis untuk pers di kampusnya. Karangannya juga dikirim ke harian Kompas, tetapi tidak ada satu pun yang diterima. Namun, di Sinar Harapan dan Merdeka tulisannya banyak dimuat.
Namun, baru saja lulus sarjana muda dari Satya Wacana, tahun 1981, Bre Redana diterima sebagai wartawan di harian Kompas yang sebelumnya tidak pernah menerima satu pun tulisannya. Sebagai jurnalis pemula, Bre Redana ditempatkan di bagian yang menangani ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Selanjutnya ia pindah ke bagian kota, olahraga, dan luar negeri, sampai akhirnya bertugas di bagian yang mengelola kolom budaya.
Baginya, sangat menyenangkan menangani kolom budaya yang sesuai dengan bakat dan minatnya. Sejak anak-anak Bre Redana memang sangat dekat dengan kesenian tradisi, seperti kethoprak, tarling, dan tayub. Ia pernah mengatakan, “Kalau saya menonton atau menulis hal itu lagi, saya seperti merasa kembali ke mata air saya lagi.”
Tahun 1990-1991 Bre Redana mengikuti kuliah kajian media di Darlington College of Tehnology, Inggris. Fokus tulisan Bre beralih ke masalah sosial di seputar kehidupan masyarakat Jakarta, seperti gosip artis, tren body shop, sampai toko mewah Mark and Spencer.
Tulisannya dikemas dalam laporan kerja jurnalistik yang dapat dibaca oleh berbagai kalangan. Bre Redana melihat pekerjaan jurnalistiknya bukan sekadar sumber pendapatan, melainan juga merupakan panggilan. “Saya menghayati pekerjaan jurnalistik. Saya merasa ada dimensi yang sakral dari pekerjaan menulis ini.”
Ketika pada 1980-an rezim Suharto mengangkat isu ‘bersih lingkungan’, ia dinyatakan termasuk sebagai orang yang ‘tidak bersih’. Bre Redana pun terpukul.
Akan tetapi, ia tidak menjadi patah arang. Ia terus mencari strategi lain untuk tetap dapat menulis. Sebagai jurnalis, ia sangat menghayatinya. Di mana pun berada, ia berusaha masuk sedalam-dalamnya, tetapi tetap ada jarak. “Karena dengan berjarak, kita bisa tetap kritis,” ujarnya.
Ia menggemari pencak silat. Ia telah mendalaminya selama lebih dari lima belas tahun.
Membaca, termasuk membaca novel, sudah menjadi rutinitas harian. Setiap pagi ia jarang membaca koran. Biasanya Bre membaca buku yang agak serius. Ia sangat mengagumi Umber Echo, esais kelas dunia. Mungkin tulisan Bre terpengaruh oleh ide esais itu. “Echo sebagai seorang pemikir bisa menghasilkan esai yang mampu menjelaskan problem yang ada di masyarakat dengan sangat bagus dan disampaikan dengan sangat ringan,” tuturnya.
Cita-citanya yang masih belum tercapai adalah menghasilkan sebuah karangan dari genre yang lain. “Saya ingin menulis novel,” katanya tentang keinginan yang hendak ia capai.
Ia merindukan mempunyai waktu khusus. Pekerjaan jurnalistik sangat sibuk. Sehingga, menurut Bre, membuat kreativitasnya mandek. Kompas akan menjadi tempat perhentian akhir karier Bre Redana. Ia tidak mempunyai keinginan untuk bertualang kerja di tempat lain. “Setelah di Kompas saya nggak mau kerja di mana-mana lagi. Saya ingin pensiun, lalu menulis,” menurutnya.
Potret Manusia Sebagai Si Anak Kebudayaan Massa (2002)